Pemerintah dan BI Harus Bisa Optimalkan Pertemuan Tahunan IMF di Bali

Jakarta - Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF) dan Word Bank yang akan berlangsung di Nusa Dua, Bali, pada Oktober 2018 harus memberikan nilai tambah bagi Indonesia.

Sejumlah ekonom mengharapkan Pemerintah dan Bank Indonesia memainkan peran lebih dalam pertemuan tersebut. Baik untuk kepentingan negara berkembang maupun kepentingan nasional dalam tatanan ekonomi global.

Hal itu mengemuka dalam focus grup discussion bertema "Menakar Kesiapan Indonesia Melaksanakan Annual Meetings IMF-WB 2018" yang digelar oleh Digital Media Research Center di Gedung Metro TV, Kedoya, Jakarta, Senin, 12 Maret 2018.

Pengamat ekonomi Firmanzah menyatakan, banyak tema yang bisa disuarakan dalam pertemuan internasional tersebut, antara lain peran sektor UMKM dalam ekonomi, inklusi keuangan, sinergi teknologi baru dengan ekonomi konvensional, pembangunan infrastruktur, serta ekonomi dan keuangan syariah sebagai elternatif penyeimbang ekonomi konvensional.

“Tentu masyarakat dunia juga mengharapkan sentralitas Indonesia untuk mengisi dan mewarnai tema-tema itu. Saya rasa kita punya peluang yang cukup besar,” ucapnya.

Rektor Paramadina ini juga menyampaikan pentinganya peran perempuan dalam pembangunan, aspek pemerataan, dan bagaimana mencari solusi terkait dengan ketimpangan di dunia saat ini. Tidak hanya itu, isu green economy dan blue economy juga menjadi isu yang menarik untuk disampaikan di forum tahunan di Bali nanti.

Hal senada disampaikan akademisi Tony Prasetiantono. Menurutnya, forum tersebut akan sangat bermanfaat bagi Indonesia. Oleh karena itu momen tersebut harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan sektor pariwisata, investasi asing, dan perdagangan.

Di sisi lain, pemerintah harus membuktikan kepada IMF bahwa Indonesia mampu tumbuh dengan baik. Pasalnya lembaga keuangan internasional tersebut pernah melakukan kesalahan terhadap Indonesia saat krisis ekonomi 1998 lalu.

"Rakyat Indonesia waktu krisis juga dikelola secara salah, kita enggak mungkin keluar dari IMF. Enggak masuk akal, justru dapatkan kepercayaan ini sebagai pengakuan kesalahan terbesar IMF men-treatment kita dengan salah, enggak mungkin negara jelek yang jadi tuan rumah," tegas dia.

Setidaknya 20 ribu delegasi akan hadir dan memeriahkan pertemuan tahunan IMF dan World Bank di Bali pada 8-14 Oktober nanti. Mereka yang bakal hadir terdiri dari gubernur bank sentral dan menteri keuangan dari 189 negara, sektor privat, NGOs, akademisi, dan media.

Sementara 189 negara anggota IMF meliputi Indonesia, Amerika Serikat, Inggris Raya, Uni Eropa, Mesir, India, Pakistan, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Australia, Lebanon, Turki, Somalia, Pantai Gading, Kamerun, Kenya, Uni Emirat Arab, Yordania, Israel, Mongolia, Vanuatu, dan lainnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam kesempatan lain menyatakan, setidaknya akan ada 3.000 pertemuan dalam momen tersebut. Pertemuan itu terdiri dari beberapa agenda yang meliputi IMF-WB Plenary Session, International Monetary and Financial Committee (IMFC) Meeting, World Bank Development Committee, Pertemuan Grup Kerja sama Ekonomi Lainnya (G-20, G-24, MENA, Commonwealth, BRICS, IIF, WEF), pertemuan sektor perbankan dan riil lainnya, seminar dan international conference serta konferensi pers.