The World is Coming to Indonesia: Nikmati Keindahan dan Toleransinya

Indonesia berada di jalur laut utama Asia bagian timur dan selatan. Dengan letak geografis seperti ini, akan ditemui populasi yang terdiri dari beragam ras, bahasa dan budaya. Akan terdapat pula, banyak keunikan dan perbedaan. Konsekuensi berikutnya adalah daratan yang disatukan oleh lautan ini akan menjadi tempat akulturasi dan asimilasi berbagai budaya.

Negeri yang sebelumnya pernah disebut sebagai Nusantara, Hindia Timur, bahkan Insulinde, merupakan jalur perdagangan ramai sejak dahulu. Kepulauan ini pernah menjadi tempat paling dicari oleh ekspedisi-ekspedesi dagang dunia karena memiliki rempah-rempah yang dibutuhkan pasar dagang internasional. Bangsa India, Tiongkok, Arab, hingga bangsa Eropa berdatangan ke negeri kepulauan ini hingga berdiam lama dan banyak yang tinggal menetap. Indonesia sejak dahulu adalah jalur perdagangan dan ekonomi penting dunia. Menjadi semakin penting karena manusianya memiliki ciri khas ramah, terbuka, dan selalu menyambut baik semua yang datang.

Kedatangan bangsa dari utara dan barat tersebut membuat kebudayaan Indonesia yang sudah beragam menjadi semakin kaya. Akulturasi dan asimilasi terjadi secara alamiah pada semua sektor kehidupan. Hal Itu pada gilirannya melahirkan budaya dan pola hidup baru dalam masyarakat dan membentuk Indonesia hari ini. Pada awal Republik Indonesia berdiri, ada banyak perdebatan tentang bagaimana mempersatukan keragaman tersebut. Namun kematangan bangsa ini membuahkan sebuah slogan yang mampu menggambarkan hal tersebut secara tepat: Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda namun tetap dalam kesatuan. Berbeda tetapi justru mampu membangun harmoni dan keindahan. Dan semua ini terwujud karena ada toleransi di dalamnya.

Itulah yang kiranya tampak dan menjadi pesan dari deretan lukisan dan karya kriya pada pameran seni bertema “Voyage to Indonesia” yang digelar di Gedung Yusuf Anwar, kompleks Kementerian Keuangan pada 12-14 Maret lalu. Pameran yang menjadi rangkaian acara sebelum Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan tahunan IMF-World Bank 2018 di Bali ini, dibuka oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo.

Di gedung yang dibangun oleh Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, itu Sri Mulyani meresmikan satu lukisan besar berukuran 345 x 810 cm. Nantinya lukisan ini akan dipajang di lorong gedung World Bank di Washington DC. dalam rangka Spring Meeting World Bank-IMF April mendatang.

Uniknya, lukisan ini terdiri dari 14 kanvas yang dikerjakan secara bersama oleh delapan perupa muda Indonesia. Dikerjakan selama 12 jam tanpa melalui diskusi konsep, mereka menggoreskan kuas, mengaduk dan menyemprotkan cat. Mereka berbagi ruang tanpa terlihat dominasi antara satu dengan yang lainnya. Hasilnya mengagumkan, lukisan tampak merupakan komposisi objek dan warna yang menyatu, seperti ingin menegaskan Indonesia yang indah dan toleran.
Seperti disampaikan oleh kuratornya, Amir Sidharta, karya tersebut memang ingin memperlihatkan bagaimana pentingnya keberagaman, kerjasama, komunikasi, serta toleransi dalam membentuk dan membangun masyarakat yang damai dan sejahtera.

Deretan lukisan dari ekspresi perupa Marishka Sukarna, Yudi Andika, Widyatmiko, Rizky Aditya Nugroho, Oldy Juralki, Adhi Dharma, Muchlis Fhari dan Age Airlangga itu juga seperti ingin mengabarkan bagaimana Indonesia adalah negara yang indah, optimistis, ramah dan penuh warna.

Tidak akan lama lagi, Indonesia akan menjadi tujuan warga dunia. Selain akan menjadi tuan rumah Asian Games pada Agustus-September nanti, Indonesia juga akan menjadi tuan rumah bagi pertemuan tahunan IMF-World Bank Group di bulan Oktober mendatang. Inilah pertemuan yang akan menghadirkan lebih dari 15 ribu delegasi dari 189 negara. Itu artinya, hampir semua utusan dunia akan berada di Bumi Khatulistiwa. Artinya pula, forum ini akan menjadikan semua mata dunia tertuju pada Indonesia dengan segala warna-warni dan keberagamannya; dengan segala keindahan dan toleransinya.