AM IMF-WBG 2018: Kehormatan Dunia dan Peluang bagi Indonesia

vti-bi.jpg

Oktober 2018 nanti Indonesia akan menjadi pusat perhatian dunia. Sebuah perhelatan kelas wahid akan digelar di Nusa Dua, Bali. Di sana, lebih dari 15 ribu delegasi dari 189 negara akan menghadiri sebuah acara bergengsi, yakni Annual Meeting Internasional Monetary Fund-World Bank Group (AM IMF-WBG) 2018. Acara ini merupakan acara tahunan IMF dan World Bank yang setiap tiga tahunnya digelar di sebuah negara terpilih. Di tahun ini Indonesia mendapat kehormatan menjadi pertemuan ini setelah kota Lima, Peru, pada tahun 2015 lalu.

"Annual meeting World Bank dan IMF itu dua tahun dilakukan di Washington terus satu kali dilakukan di luar negeri, seperti tahun ini di luar negerinya di Peru, Lima, tetapi yang 2018 adalah di Indonesia, Bali," demikian dikatakan Gubernur BI Agus Martowardojo, seperti dikutip sindonews.com, September 2015 silam.

Terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah AM IMF-WBG 2018 bukan hadiah atau pemberian cuma-cuma. Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan tahunan tersebut adalah buah dari upaya dan kerja keras para “diplomat” ekonomi kita sejak tahun 2014 lalu. Sebab untuk menjadikan sebuah negara menjadi tuan rumah pertemuan tahunannya, IMF melakukan seleksi yang ketat.

Prosesnya dimulai dengan pengajuan negara anggota untuk menjadi tuan rumah Annual Meeting secara tertulis kepada IMF dan World Bank. Setelah itu dilanjutkan dengan menyerahkan dokumen penawaran yang memperinci bagaimana mereka akan memenuhi persyaratan utama, seperti tempat konferensi, akomodasi, kemampuan teknologi informasi, dan keamanan. Negara-negara yang memenuhi persyaratan utama dimasukkan ke dalam daftar singkat untuk diinspeksi oleh tim khusus. Berdasarkan kesimpulan tim ini, anggota-anggota dewan eksekutif dari kedua lembaga kemudian membuat rekomendasi kepada Dewan Gubernur.

Tahun 2014 lalu, setidaknya ada delapan negara yang bersaing dengan Indonesia. Menurut Agus, proses pemilihannya pun dilakukan dengan tidak sederhana namun sangat transparan, karena keputusannya masih harus dibawa ke forum Board of Director IMF dan World Bank.

Hal ini diamini oleh Managing Director IMF Christine Lagarde saat berkunjung ke Indonesia, awal Maret lalu. Kedelapan negara calon tuan rumah bersaing ketat dan mengikuti proses penjurian dari pihak IMF dan World Bank secara langsung.

"Para juri dari anggota IMF dan World Bank memperhitungkan banyak indikator seperti akomodasi, transportasi, akses yang mudah, wi-fi, aspek keamanan sampai hal teknis lainnya," jelas Lagarde, seperti dikutip oleh CNBC Indonesia, saat tengah berada Nusa Dua, Bali.

Setelah terseleksi, terpilihlah tiga negara: Mesir, Senegal, dan Indonesia. Pada tahap berikutnya, pihak IMF dan World Bank meninjau langsung (inspeksi) ketiga negara tersebut. Hal ini dilakukan karena Pertemuan Tahunan akan menghadirkan seluruh regulator di bidang keuangan, yakni para menteri keuangan serta gubernur bank sentral semua negara anggota. Dan hasilnya, Indonesia mendapatkan suara mayoritas melalui voting oleh 189 negara, mengalahkan Senegal dan Mesir.

"Dari kontes itu, Indonesia adalah yang paling baik," begitu Lagarde mengatakannya.

Dengan demikian, adalah sebuah kehormatan bagi Indonesia telah mendapat kepercayaan untuk menjadi tuan rumah bagi utusan hampir seluruh negara di dunia ini. Pertemuan Tahunan di Bali nanti berisi serangkaian acara yang berisi pertemuan tahunan Dewan Gubernur yang mencakup perwakilan pemerintah dari 189 negara anggota kedua lembaga tersebut. Selain itu, Pertemuan Tahunan juga akan mempertemukan para pejabat bank sentral, menteri keuangan, akademisi, eksekutif sektor swasta, anggota parlemen, wakil organisasi masyarakat sipil, dan wartawan.

Berbagai acara dalam pertemuan ini juga memberi kesempatan kepada peserta untuk membahas isu-isu global, termasuk prospek ekonomi, stabilitas keuangan, lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, pembangunan, hingga efektivitas bantuan.

Menko Kemaritiman selaku Ketua Panitia Nasional AM IMF-WBG 2018 Luhut Pandjaitan dalam satu kesempatan menyebutkan, bakal ada dua ribu hingga tiga ribu side meeting yang mengiringi acara tersebut. IMF menyebut pertemuan-pertemuan ini sebagai konferensi ekonomi utama di dunia.

Kesempatan ini tentu akan memberi banyak manfaat bagi Indonesia. Manfaat itu meliputi peluang peningkatan pariwisata, investasi, dan bisnis yang berkelanjutan. Kehadiran 20 ribu lebih peserta dalam rangkaian acara selama satu pekan itu setidaknya akan memberi platform yang tak tertandingi bagi Indonesia untuk mengatakan pada dunia tentang pencapaian-pencapaian yang sudah diraih, potensi dan pertumbuhan ekonomi, dan juga iklim investasi.

Pertemuan Tahunan juga akan memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan global utama bagi kunjungan dan acara serupa, sehingga memungkinkan Indonesia memproyeksikan diri sebagai lokasi yang terorganisir secara baik untuk pertemuan-pertemuan tingkat tinggi berikutnya.

Pada tingkat lokal, meskipun Bali sudah menjadi tujuan kelas dunia dengan berbagai rupa dan warnanya, perbaikan akan terjadi di berbagai bidang. Sebut saja fasilitas bandara, jalan raya, pariwisata domestik, dan konektivitas digital. Demikian juga bagi 60 tujuan wisata di Banyuwangi, Lombok, dan daerah-daerah lainnya di Nusantara.

Tidak berhenti di situ, pasca acara, berbagai fasilitas dan infrastruktur yang sudah terbangun, akan dirasakan warga Bali khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Meja, komputer, dan perlengkapan kegiatan lainnya akan diserahkan kepada Pemda Banyuwangi, Badung, Lombok untuk kemudian diperuntukkan bagi siswa-siswa sekolah di tiga daerah tersebut.

Nyatalah, AM IMF-WBG 2018 tidak hanya kehormatan melainkan juga peluang dan tantangan bagi bangsa ini ke depan.