Tak Perlu Pesimis, Masa Depan Harus Dihadapi dengan Kesiapan

tak-perlu-pesimis-masa-depan-harus-dihadapi-dengan-kesiapan.jpg

Jakarta – Disrupsi tekonologi terjadi berkali-kali dalam sejarahnya. Dulu di masa Socrates ketika cara menulis mulai ditemukan, ia ditakuti karena akan menggantikan peran memori otak kita. Ratu Elizabeth I juga pernah mengatakan, mesin akan mengubah para pekerja menjadi pengemis. Di awal abad 20 pernah juga dikatakan bahwa 100 tahun ke depan manusia tidak perlu bekerja 40 jam seminggu karena akan ada yang menggantikan peran tersebut.

“Artinya ternyata semua hal itu tidak terbukti. Pesimisme yang berlebihan ternyata tidak terjadi, harapan yang utopia juga tidak terjadi. Untuk ke depannya juga seperti itu,” tandas Vivi Alatas, Lead Economist Bank Dunia untuk program pengentasan kemiskinan, dalam Youth Talkshow bertajuk Strategi Pemuda Menghadapi Pasar Tenaga Kerja di Masa Depan, Rabu, 28 Maret 2018 di Jakarta.

Vivi bahkan melihat banyaknya harapan baru di masa mendatang, di era yang disebut revolusi industri ke-4 ini. Berbagai macam platform ekonomi yang berkembang, inovasi teknologi yang melahirkan 3D printing misalnya, internet optik, dan sebagainya, justru akan membuka pasar yang sebelumnya tidak ada.

“Marketnya akan jadi lebih besar, bukan hanya di kecamatan kita, atau di kabupaten kita, atau bahkan bukanhanya di benua kita,” tuturnya.

Selain itu, perkembangan ke depan akan menciptakan inovasi dan efisiensi yang jauh lebih baik. Namun di saat yang sama ia juga akan tetap bisa melahirkan apa yang disebut dengan winner takes all – situasi ini yang juga terjadi di masa-masa sebelumnya di mana ada pihak yang dikalahkan hingga melahirkan ketimpangan.

Di titik ini, kesiapan sumber daya manusia dan pendidikan sebagai ruang pembentukannya menjadi penting dan urgen. Di sinilah maksud yang dikatakan Vivi untuk tidak pesimis dengan masa depan namun untuk menghadapinya juga perlu disiapkan.

“intinya ada banyak PR yang harus dilakukan,” ujar Vivi.

Hal senada juga disampaikan oleh Parjiono, Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral (PKPPIM) Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan. Menurutnya, banyak hal yang harus disiapkan di era di mana persaingan sudah tidak sebatas tingkat lokal saja akan tetapi antara bangsa.

Human capital adalah kata kuncinya. Di dalamnya ada kapasitas diri dan kompetensi. Selain itu anak muda juga dituntut untuk kreatif dan adaptif menghadapi masa depan. Untuk itu dibutuhkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terus terjadi.

“Para pesaing anda sudah sudah bukan dari Klaten atau daerah lain di Indonesia, tapi dari negara lain,” ucapnya.

Namun demikian kekhawatiran yang demikian ini bukan milik negara berkembang seperti Indonesia semata. Negara-negara lain pun sama.

“Poin saya, siapkan kapasitas dan kompetensi kita. Kita harus menguasai teknologi, kita harus tahu apa yang menjadi demand (permintaan) dari kondisi global, tidak hanya dari domestik saja,” tandasnya.

Youth Talkshow yang digelar oleh Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan ini dihadiri juga oleh utusan Kedutaan Besar Australia dan Yayasan Dreamdelion Indonesia, sebuah community development yang berfokus pada isu-isu terkait dengan pendidikan, kesehatan dan lingkungan, serta pendampingan dalam pemberdayaan ekonomi lokal.

Youth talkshow ini diselenggarakan dalam rangka Voyage to Indonesia, sebuah rangkaian kegiatan yang diadakan menyambut Pertemuan Tahunan IMF-Kelompok Bank Dunia 2018 di Bali, Oktober mendatang.